31 Des 2009

Terlerailah sebuah ukhuwah,…

“Sudahlah, sandiwara telah berakhir dan cerita telah usai.
Sebuah pesan singkat terakhir darimu, hingga hari ini masih kekal kusimpan dalam ingatanku.
Memang, semua tak lebih dari sebuah sandiwara. Bahkan penghianatan ku yang kau yakini itu juga adalah sebuah sandiwara. Oh begitu berkelitnya kah hidup.? Tidak, yakinlah bahwa Tuhan selalu mencintaimu dan sedikitpun tak pernah menganiaya dirimu begitu juga aku. Aku ingin sekali membentuk pribadi dan kebiasaan yang baik pada diri mu. Namun Alhamdulillah,…hampir setahun semua itu ku terapkan padamu bahkan sengaja ku ajak dirimu untuk sama-sama mempelajari konsep hidup yang baik itu seperti apa. Namun ketika kubuat sebuah ujian mendadak, kau runtuh. Bahkan putus asa dan memaki aku didepan semua orang bahwa aku adalah seorang penghianat yang berdarah dingin. Subhanallah,…

Ternyata kau belum lulus, permainan belum dimulai. Belum apa – apa.! Tapi sayang, kau begitu cepat berpaling arah. Sengaja kucoba untuk mengakui semua kesalahan ini dengan harapan agar aku bisa memberikan kembali materi – materi yang dulu pernah kau pelajari namun sedikitpun tak ingat waktu ujian. Setelah beberapa hari, belum sempat semua itu terlaksana bahkan kata maafpun belum terjawab, kutemui engkau telah sedang bermesraan dengan seseorang. Mendadak, semua seperti mimpi, kucoba memukul dadaku, purutku bahkan kepalaku sendiri dengan harapan supaya aku terjaga dari mimpi dan tidur yang lelap ini. Namun sngguh, ini bukan mimpi. Ini nyata, kau kah itu.? Subhanallah,…keren sekali gayamu sekarang, berboncengan dengan seorang laki-laki yang bukan mukhrim mu, apalagi pakaianmu, kaos pas body dipadu dengan jeans ketat ala Eropa.! Ukh,…mata laki – laki mana yang sanggup menahan untuk tak melirik kearah mu.? Tapi sayang, jilbabmu sedikit kelihatan agak sumbang, itu yang membuat penampilanmu sedikit agak tidak sempurna sebagai seorang yang sering kita jumpai dipinggir jalan dulu. Iya,…orang yang dulu kau bilang mengumbar nafsu dunia itu.! Masih ingatkah kau.?
Pasti tidak ingatkan, aku yakin itu. Karena dengan aku sendiri pun yang sudah begitu dekat dan akrab dengan mu saja kamu lupa, apalagi dengan kata-kata yang dulu pernah kau ucapkan.! Oh kasian,…
Pulang lah, aku tidak mengatakan kalau jalan yang kau pilih ini salah jika kau sudah menganggap dirimu bukan muslimah yang baik lagi. Tapi yakin lah dengan janji Allah, janji Tuhan kita yang dulu selalu kau agung-agungkan bahwa:
“Sesungguhnya laki – laki yang baik itu adalah untuk wanita – wanita yang baik pula, begitu juga sebaliknya.
Namun jika memang jalan ini yang tetap kau pilih, aku tak akan menghalangi jalanmu. Begitu juga dari semula, tak terniat hati ini untuk menghalangi jalan hidupmu sedikitpun. Aku hanya ingin hidupmu berjalan dijalan yang benar.
Oh ya, titip salam buat kakakmu, sampaikan padanya bahwa keadaanku selalu baik – baik saja dan cukuplah semua kata – katanya. Tak terlalu manis, namun tidak juga terlalu pahit. Mungkin kakakmu benar, siapa yang mau adiknya dipermainkan oleh seseorang. Namun apa sebenarnya yang dia harapkan dari orang yang dekat dengan adiknya, supaya adiknya bisa menjadi lebih baik atau hanya sekedar untuk berhura – hura.? Sampaikan juga padanya bahwa kata cinta itu bukan untuk kekasih, tetapi untuk suami / istri.
Disini, aku masih belum bisa memahami mengapa kau bisa seperti ini. Tidak sesuai dengan apa yang pernah kau ucapkan dulu.! Maaf jika tulisan ini menggores hatimu, namun ini lah suara hatiku.!
Pergilah, semoga kepergianmu tak akan merubah apapun pada diriku. Yaa Allah,…
Kuserahkan dia kembali padamu, mungkin sebagai makhluk ciptaanMu yang tak lepas dari silap dan salah ini hanya disinilah mampu aku mendidiknya.
Aku mohon yaa Allah,...bimbinglah langkahnya supaya bisa berjalan dijalanMu yang lurus yaa Allah,…
Amin.

22 Des 2009

Mutiara yang berderai

Akhirnya mutiara itu jatuh juga dari sebuah genggaman yang erat. Hancur, remuk dan terlihat hakikat yang sesungguhnya bahwa sebuah mutiara yang cantik itu tak lebih dari sekedar gabungan partikel – partikel bebatuan.

Aduhai,…jangan lah tergesa – gesa kau ambil sebuah keputusan. Karena sungguh tak ada yang mampu memprediksikan apa yang akan terjadi pada esok hari. Namun jika ini adalah jalan terbaik yang kau pilih, aku tak akan menahan. Bukankah kita sudah sama – sama dewasa dan bisa berfikir tentang hakikat akan kehidupan ini.
Doa’a ku tak akan pernah berhenti mengiringimu, karena memang aku tak pernah mengharapkan apapun balasan dari seorang insan sepertimu.
Jika memang kau anggap ini adalah sebuah kesalahan, aku mohon maafkan atas segala kekhilafanku. Namun, inilah aku. Seorang insan yang hanya bisa berdo’a dan berdo’a untuk mengharapkan keridho’an dari Yang Maha Kuasa.

Sebuah keakraban yang tak akan pernah bisa terlupakan, meskipun langit tak pernah seindah harapan.